The Power of Letting Go and Surrender…



Hi my third entry…
Hari ini, cerah dengan sinar matahari yang begitu hangat. Bahkan aku rasa burung didepan rumah kicaunya  lebih bersemangat. Aku pun begitu.
Beberapa hari belakangan, aku mendapat berkah berupa pergaulan baru yang menjadi salah satu latar belakang tulisanku kali ini. Berada pada lingkaran tersebut, kurasa akhirnya aku benar-benar bisa berdamai dengan diriku yang sesungguhnya. Kami semua berbeda, dan entah mengapa justru pada perbedaan tersebutlah aku mendapat sesuatu yang tidak kudapat dalam hubungan yang “sama dan setara”.
Mungkin sejatinya, apa yang aku alami saat ini adalah hal biasa, tapi bersama mereka aku lebih menyelami hikmah dari setiap kejadian. Aku yang suka mengutuk hidup, perlahan mulai melepas genggaman dendam dan kekecewaan. Aku yang suka banyak menuntut, mulai tersentuh dengan ringannya berserah diri.
Sampai saat ini, aku tidak mengerti cara Tuhanku (Allah) bekerja. Tapi yang sejati adalah, Allah sangat mengerti diriku, yang buruk dan baik untukku. Aku jatuh, tapi Allah jatuhkan aku diantara bintang-bintang. Dia membalas sumpah serapahku atas ketentuan-Nya dengan menuntunku pada jalan yang penuh kasih sayang dan ridlo-Nya.
Dan juga, aku pikir aku sudah cukup belajar dan menjadi dewasa. Nyatanya, aku masih sering mempermalukan diriku sendiri di hadapan Tuhan. Aku pikir dunia ini dalam kendaliku, aku ingin setiap orang berjalan pada langkah yang aku mau mereka jalani. Tidak senang karena terpaksa, itulah yang aku lihat pada wajah mereka. Pikirku, setidaknya bukan aku sendiri yang terpaksa menjalani hidup yang tak ku kehendaki alurnya. Aku senang melihat bukan aku saja yang mengutuk hidup ini, haha. Sekarang? Aku bertumbuh dan sadar, lalu hal tersebut menjadi sesal. Aku ijinkan sisi gelap diriku untuk menyeret orang-orang terdekatku pada hal yang tidak mudah hanya karena aku gagal berdamai dengan sakitku.
Perlahan dan bertahap, aku mulai melepas sedikit demi sedikit gengamanku akan dendam dan kekecewaan yang entah karena apa dan siapa. Menggantinya dengan rasa percaya bahwa semua yang diberikan maupun direnggut dariku adalah untuk hikmah terbaik. Mulai kembali menata perjalanan dengan memaafkan keadaan dan mengakui bahwa aku juga sungguh tidak cukup baik dalam menghadapinya. Juga kembali dengan penuh rasa terima kasih atas setiap terpaan hidup yang menghardikku saat aku begitu belia. Berterima kasih atas bertahannya diriku, walau aku bertahan dengan meracau dan mengacau. Berterima kasih kepada semua hal yang telah menopangku sembari membantuku untuk membaca dunia dalam artian yang sebenarnya. Sehingga aku ada pada titik dimana aku sadar bahwa hanya Tuhanku lah yang benar-benar berhak atas pemujaanku, rintihku dan sujudku.
Tidak apa, walau masih terus berusaha untuk berdamai dengan rasa sakit aku sekarang mulai baik-baik saja, sungguh. Aku melepaskan dan merelakan banyak hal yang sebelumnya menggangguku. Saat ini aku hanya menyibukkan diriku pada sesuatu yang ada pada tujuan kebaikan. Selebihnya. aku serahkan pada Tuhanku, Dialah yang mengatur seluruh alam semesta ini, maka aku panjatkan dalam do’a apa-apa yang berada diluar kendaliku. Aku pasrahkan dan relakan. Begitu ringan dan damai. Kurasa, akupun lebih mempunyai fokus yang baik pada hal-hal yang lebih berarti. Dan kau tau? aku bangun dari tidur ku dengan perasaan yang amat baik dan penuh syukur, tak seperti sebelumnya yang dengan beban. Entahlah, aku juga bingung sejak kapan dan dari mana ini dimulai. Yang jelas, aku sangat menikmati  ketenangan ini. Ketenangan yang aku cari dan dapatkan dengan terus berpikir dan mengarah pada hal baik.

Komentar

Postingan Populer