Ritmeku... Alurku... Pendirianku...


Aku sudah menangis..
Aku sudah tertawa..
Semua tetap indah…
Aku harus juara..
Berdiri disini..
Tegar…
Aku disini untuk cinta…
Memenangkan hati
Kalahkan dunia..

Penggalan lirik lagu yang betapa mewakili poros hidupku. Hampir 8 tahun sudah sejak aku ditakdirkan untuk menjadi kuat meskipun aku tak siap. Menjadi tegar bertanggung jawab walau tak tahu arah. Berjalan tanpa pilihan. Maukah? Siapkah? Tidak ada yang bertanya padaku, bahkan Tuhan pun tidak. Semuanya tertulis sebagai takdir atau nasib, kata orang. Entahlah, bahkan akupun tidak diberi hak dan kesempatan untuk menyerah. Aku ingin menertawakan semuanya diatas tangisan. Ya, aku memang terlalu banyak menangis di usia belia. Makanya, aku ingin menertawakan masa beliaku. Tawa kasihan haha.

Sepertinya semua begitu buruk ya? Memang kehilangan kali ini sungguh buruk, tapi aku lega karena Tuhan yang sempat aku nistakan kasih sayangnya karena pedihku, telah mengirim sedikit orang yang tepat dijalanku. Orang-orang yang memahami warna baru dalam lonjakan emosiku, bersamaku menemukan jalan kembali. Orang-orang yang bersimpati dalam hati, bukan muka, cih!

Kata orang, kita bisa jauh lebih dekat dan memahami dunia dan penciptanya ketika kita berada pada titik terendah. Kalau begitu, aku bersyukur karena mengalaminya di usia yang amat muda, haha. Permainan takdir ini, memang membentukku menjadi pribadi yang  tidak pernah aku bayangkan. Pada titik ini, dimana aku menjadi pribadi yang berserah pada-Nya, menyadari kehendak-Nya dan merasakan kasih sayang sesungguhnya dari-Nya. Aku tenang walau sakit. Mata terpejam walau basah mengalir. Sisi tundukku tercermin begitu. Selebihnya, aku keras kepala karena tangguh dan terbiasa menguatkan diri sendiri. Aku bisa menempatkan kasih sayang dan kemarahan pada orang yang tepat dengan begitu tersirat. Terdengar menakutkan kah? Aku rasa semua orang sama-sama memiliki sisi baik dan buruknya sendiri, bedanya adalah mau mengakuinya atau tidak. Intinya, aku tetaplah manusia yang berusaha baik walau terkadang bisa jahat, semuanya sebab dari nasib yang jalannya begitu mengejutkanku. 

Nasib membuatku membaca terlalu banyak karakter yang berbeda, suasana yang tulus maupun terencana. Nasib menempaku untuk bersiap terhadap semua keadaan dunia. Apa lagi yg bisa aku perbuat? Menyalahkan seseorang? Oh tidak, aku tidak suka itu. Aku muak menyalahkan keadaan dan orang-orang yang terlibat didalamnya. Aku tidak akan menyentuh mereka yang dzalim, karena menyalahkan tidak akan menyelesaikan masalah. Aku butuh solusi dari masalah yang mereka perbuat. Oleh karena itu, aku rasa akan jauh lebih baik jika menunjukkan mereka jalan untuk bertanggung jawab pada keadaan yang telah mereka buat, padaku!

Jika berada pada keadaan yang salah, berpikir dan introspeksilah! Jika memang semuanya murni khilafmu, maka hadapi dengan berani, kita manusia yang bisa berbuat salah dan bisa bertanggung jawab bukan? Kalau keadaan yang keliru tersebut karena campur tangan orang lain, jangan salahkan dia, karena tidak akan selesai masalahmu. Sebaliknya, buat dia bersamamu dijalan yang kamu tempuh untuk memperbaiki keadaan. Dengan begitu, kamu tidak perlu merana sendirian bukan?
Manusia adalah tempat khilaf dan hanya manusia saja yg bisa bertanggung jawab dan memperbaiki khilaf tersebut. Jadi, ketika kamu menemukan seseorang yang tidak bisa bertanggung jawab, terutama ketika ia merugikanmu, maka percayalah bahwa dia bukan manusia. Kalau bukan manusia, maka kamu tidak bisa membuatnya bertanggung jawab. Pada saat inilah hendaknya kamu kembalikan urusan pada Tuhan semata. Lalu bagaimana selanjutnya? Bertahanlah untuk melihat kuasa Tuhan bekerja!

Komentar

Postingan Populer